DPRD Jember Angkat Bicara soal Street food Kartini, Akses Jalan Jadi Sorotan

DPRD Jember Angkat Bicara soal Street food Kartini, Akses Jalan Jadi Sorotan

DPRD JEMBER – Wakil Ketua DPRD Kabupaten Jember, Fuad Akhsan menyambut positif progres pembangunan street food di kawasan Jalan Kartini yang kini telah mencapai sekitar 30 persen. Menurut pria yang akrab disapa Gus Fuad itu, kehadiran pusat kuliner tersebut akan menjadi wajah baru kawasan perkotaan di Kabupaten Jember sekaligus menandai lahirnya pasar kuliner modern yang selama ini belum pernah dimiliki Kota Suwar-Suwir.

Bagi Gus Fuad, pembangunan street food bukan sekadar proyek penataan kawasan, melainkan langkah besar dalam mengubah wajah kota menjadi lebih tertata, modern, dan ramah bagi pelaku usaha mikro. Ia menilai, sejak Jember berdiri, belum pernah ada kawasan kuliner kaki lima yang dibangun dengan konsep megah dan terintegrasi seperti saat ini.

“Ini sejarah baru bagi Jember,” ucapnya di Jember, Senin 25 Mei 2026.

Meski demikian, politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) tersebut mengingatkan agar pengelolaan street food tetap memperhatikan kepentingan publik. Menurutnya, keberadaan fasilitas umum di kawasan Jalan Kartini seperti trotoar untuk pejalan kaki, akses keluar masuk perkantoran, hingga rumah ibadah tidak boleh terganggu akibat aktivitas kuliner nantinya.

Ia menegaskan, konsep penataan street food harus dilakukan secara matang agar mampu menghadirkan keseimbangan antara kepentingan ekonomi dan kenyamanan masyarakat. Dengan demikian, keberadaan pusat kuliner modern itu benar-benar membawa manfaat tanpa menimbulkan persoalan baru.

“Intinya keberadaan street food tidak menggangu kepentingan masyarakat umum dan pribadi yang sama-sama kita hormati,” jelasnya.

Selain soal penataan kawasan, Gus Fuad juga menyoroti keberadaan pedagang kaki lima (PKL) di sekitar Alun-alun Jember. Menurutnya, ketika street food resmi beroperasi, maka kawasan Alun-alun sudah semestinya dikembalikan pada fungsi utamanya sebagai ruang terbuka publik dan area rekreasi masyarakat.

Selama ini, kata dia, aktivitas PKL di dalam maupun di sekitar Alun-alun sering kali membuat ruang gerak pengunjung menjadi terbatas. Bahkan, masyarakat yang ingin menikmati suasana santai di kawasan tersebut kerap harus berdesakan dengan lapak-lapak pedagang.

“Selama ini, warga yang mau refreshing di Alun-alun kadang berdesakan dengan lapak-lapak PKL di situ, baik di luar maupun di dalam Alun-alun,” terangnya.

Tak hanya itu, Gus Fuad turut menyoroti kondisi Jalan Kartini yang saat ini dinilai sudah tidak lagi berfungsi normal sebagai akses lalu lintas umum. Penutupan dan perubahan arus kendaraan akibat pembangunan street food disebut cukup berdampak terhadap mobilitas masyarakat, khususnya pengendara roda dua maupun roda empat yang hendak menuju kawasan utara kota.

Menurutnya, pengguna jalan kini terpaksa harus memutar melalui jalur depan SPBU Jalan Ahmad Yani, menuju Gladak Kembar, kemudian berbelok ke kiri. Alternatif lainnya, pengendara harus memutar di perempatan Tembaan menuju arah kanan. Kondisi tersebut dinilai membuat jarak tempuh menjadi lebih panjang dan kurang efisien.

“Itu kan semakin jauh. Maka Pemkab Jember harus mencari jalan alternatif untuk roda 4 dan dua saat street food dibuka, misalnya akses depan Dinas Perhubungan,” urainya.

Gus Fuad berharap, pembangunan street food nantinya benar-benar menjadi ikon baru Kabupaten Jember yang tidak hanya mempercantik wajah kota, tetapi juga mampu menggerakkan ekonomi kerakyatan, menata kawasan perkotaan, sekaligus tetap menjaga kenyamanan masyarakat luas.