Jumlah Bidan di Jember Dinilai Masih Kurang, DPRD Tekankan Pentingnya Sinergi Tenaga Kesehatan
Jumlah Bidan di Jember Dinilai Masih Kurang, DPRD Tekankan Pentingnya Sinergi Tenaga Kesehatan

DPRD JEMBER – Ketersediaan tenaga bidan di Kabupaten Jember dinilai masih belum ideal jika dibandingkan dengan besarnya kebutuhan pelayanan kesehatan masyarakat, terutama dalam penanganan kesehatan ibu dan anak.
Di tengah upaya menekan angka stunting, angka kematian ibu (AKI), serta angka kematian bayi dan balita (AKB), keterbatasan jumlah bidan menjadi tantangan tersendiri bagi sistem pelayanan kesehatan di daerah tersebut.
Meski demikian, persoalan kesehatan masyarakat tidak bisa dibebankan hanya kepada satu profesi. Kolaborasi antara berbagai tenaga kesehatan dinilai menjadi langkah penting untuk memastikan pelayanan berjalan optimal hingga tingkat desa. Pandangan itu disampaikan Anggota Komisi D DPRD Jember, Achmad Dhafir Syah. Menurutnya, selama ini bidan memang menjadi ujung tombak dalam berbagai program kesehatan masyarakat yang berkaitan dengan ibu dan anak.
Namun, ia menilai tidak tepat apabila seluruh tanggung jawab penyelesaian persoalan kesehatan masyarakat hanya dibebankan kepada bidan. “Ini sangat naif sekali kalau itu dibebankan hanya menjadi tanggung jawab bidan. Ini harus komprehensif, harus bersinergi satu sama lain,” ujar Dhafir.
Politisi PKS tersebut menjelaskan bahwa pelayanan kesehatan membutuhkan keterlibatan berbagai profesi agar hasil yang dicapai lebih maksimal. Sinergi antara bidan, perawat, dokter, hingga kader kesehatan di tingkat masyarakat menjadi faktor penting dalam meningkatkan kualitas layanan kesehatan.
Ia mengungkapkan, dari sisi jumlah tenaga kesehatan, perawat di Jember saat ini mencapai sekitar 6.000 orang. Sementara jumlah bidan diperkirakan berada pada kisaran 2.000 hingga 3.000 orang.
Komposisi tersebut menunjukkan bahwa perawat dan bidan merupakan dua kelompok tenaga kesehatan terbesar yang berhadapan langsung dengan masyarakat dalam pelayanan sehari-hari.
Karena itu, menurut Dhafir, berbagai persoalan kesehatan yang terjadi di Jember tidak dapat diserahkan kepada satu profesi saja. “Tumpuan kasus-kasus yang ada di Jember memang tidak bisa serta-merta kemudian dibebankan kepada salah satu tenaga kesehatan, bidan sendiri atau perawat sendiri,” katanya.
Selain tenaga kesehatan formal, Dhafir juga menyoroti pentingnya peran kader posyandu yang selama ini menjadi bagian tak terpisahkan dari pelayanan kesehatan masyarakat.
Menurutnya, keberadaan kader posyandu sering kali kurang mendapatkan perhatian, padahal mereka memiliki kedekatan langsung dengan masyarakat dan berperan aktif dalam berbagai program kesehatan dasar. Meski sebagian besar kader tidak memiliki latar belakang pendidikan kesehatan secara formal, pengalaman yang dimiliki selama bertahun-tahun membuat mereka menjadi penghubung efektif antara masyarakat dan tenaga medis.
Di tingkat akar rumput, kader posyandu berperan dalam menyampaikan edukasi kesehatan, memantau kondisi warga, hingga membantu proses pencegahan berbagai persoalan kesehatan.“Baik penanganan maupun pencegahan, termasuk edukasi, ini memerlukan sinergi dari semua pihak,” tegasnya.
Lebih lanjut, Dhafir mengakui bahwa jika mengacu pada kebutuhan ideal, jumlah bidan yang ada saat ini masih jauh dari cukup. Dengan jumlah penduduk Jember yang berdasarkan data BPS tahun 2025 mencapai sekitar 2,6 juta jiwa, kebutuhan tenaga kesehatan masih tergolong tinggi.
Ia menilai pelayanan kesehatan akan lebih maksimal apabila setiap desa memiliki tenaga bidan yang bertugas secara tetap.
“Kalau jumlah memang khusus bidan, berarti sangat-sangat kurang untuk kebutuhan masyarakat Jember. Kalau mau betul-betul bisa menempatkan satu bidan di satu desa,” ujarnya.
Meski menghadapi keterbatasan jumlah tenaga, Dhafir berpandangan bahwa kondisi tersebut harus dijadikan tantangan untuk mengoptimalkan sumber daya yang tersedia. Ia menilai kualitas sumber daya manusia di kalangan bidan Jember sudah cukup baik karena didukung berbagai pelatihan dan peningkatan kompetensi yang dilakukan secara berkala.
Selain itu, keterlibatan dokter spesialis kandungan dan dokter spesialis anak dalam pendampingan pelayanan kesehatan di lapangan turut memperkuat kemampuan tenaga kesehatan dalam menangani berbagai kasus.“Insyaallah mereka sudah dibekali secara keilmuan dan mereka juga sudah di-update skillnya. Dokter kandungan dan dokter anak juga diturunkan untuk membantu para tenaga bidan yang ada di lapangan,” pungkasnya.
Related Posts
- No comments have been published yet.

