Mentimun Rp500 per Kilo, DPRD Minta Tata Kelola Pertanian Dibenahi
Mentimun Rp500 per Kilo, DPRD Minta Tata Kelola Pertanian Dibenahi

Harga mentimun saat ini benar-benar anjlok. Per kilogram, harga komoditas tersebut di tingkat petani hanya Rp500. Angka itu bahkan hanya cukup untuk menutupi ongkos pemetik buah mentimun di sawah.
Kondisi memprihatinkan itu memicu gelombang protes dari para petani. Tidak heran jika sejumlah petani mentimun berunjuk rasa di halaman Kantor Bupati Jember dan depan Gedung DPRD Jember, Sabtu (13/6/2026).
Dalam aksi tersebut, para petani melampiaskan kekecewaan mereka lantaran harga mentimun terjun bebas jauh di bawah biaya produksi. Akibatnya, petani harus menanggung kerugian yang tidak sedikit di tengah tingginya biaya budidaya dan
kebutuhan hidup yang terus meningkat.
Menanggapi hal tersebut, Wakil Ketua DPRD Jember, Widarto mengungkapkan bahwa anjloknya harga mentimun menggambarkan belum optimalnya sistem perencanaan produksi pertanian. Akibatnya, petani kerap menghadapi situasi overproduksi saat panen raya berlangsung secara bersamaan.
Karena itu, pemerintah daerah perlu memiliki data yang akurat mengenai luasan lahan, jenis komoditas yang ditanam, hingga proyeksi kebutuhan pasar agar petani tidak berjalan tanpa arah.
“Jangan memproduksi dulu baru mencari pasarnya. Kebutuhan pasar harus diketahui lebih dulu, kemudian produksi disesuaikan,” tegasnya.
Menurut Widarto, peristiwa tersebut jangan dipandang sebagai hal yang remeh. Namun harus dijadikan peringatan bagi tata kelola sektor pertanian daerah yang dinilai masih lemah dalam memetakan produksi dan kebutuhan pasar.
“Pemerintah harus punya database yang valid, kuat, dan update. Baik menyangkut kebutuhan berbagai produk pertanian maupun tingkat produksinya,” jelasnya usai pengunjuk rasa membagi-bagikan mentimun gratis itu.
Ia menilai, keberadaan basis data yang terintegrasi akan membantu pemerintah daerah dalam mengantisipasi potensi kelebihan pasokan sekaligus menjaga stabilitas harga di tingkat petani. Dengan demikian, petani tidak selalu menjadi pihak yang menanggung risiko terbesar ketika pasar mengalami kejenuhan.
Dalam unjuk rasa tersebut, koordinator aksi, Jumantoro mengatakan harga jual mentimun jauh tidak sebanding dengan biaya produksi yang harus dikeluarkan petani selama masa tanam.
Karena itu, ia berharap agar pemerintah menghadirkan kebijakan yang lebih berpihak kepada petani hortikultura, termasuk akses pupuk subsidi dan stabilisasi harga komoditas sayuran.
“Saat ini nilai dolar mencapai Rp18 ribu, sehingga kami berharap harga mentimun di tingkat petani cukup 1/4 dolar saja agar kami bisa tetap menanam untuk kebutuhan pangan masyarakat,” ujar dia.
“Kami berharap anggota DPRD Jember bisa memperjuangkan nasib petani hortikultura sayuran agar para petani bisa tetap sejahtera di tengah himpitan ekonomi,” lanjutnya.
Sebagai bentuk protes sekaligus simbol kekecewaan terhadap rendahnya harga jual, para petani membagikan mentimun secara cuma-cuma kepada masyarakat. Aksi tersebut mendapat sambutan antusias dari warga. Sebanyak dua kuintal mentimun ludes dalam hitungan menit di dua lokasi yang didatangi para petani.
Related Posts
- No comments have been published yet.

