Soroti Darurat Sampah, DPRD Kabupaten Jember Dorong Pengelolaan Terintegrasi hingga Jadi Energi
DPRD JEMBER – Persoalan sampah di Kabupaten Jember dinilai semakin mendesak untuk segera ditangani secara serius dan terintegrasi. Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup, volume sampah di Jember mencapai 1.046,35 ton per hari, namun yang mampu diolah baru sekitar 19,78 ton setiap harinya.
Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran berbagai pihak, termasuk DPRD Jember. Ketua DPRD Kabupaten Jember, Ahmad Halim, S.Sos, menilai diperlukan langkah strategis dan berkelanjutan agar persoalan penumpukan sampah tidak semakin meluas.
Menurut Halim, pengelolaan sampah harus dilakukan secara terpadu mulai dari tingkat rumah tangga hingga proses pengolahan akhir. Ia menegaskan, upaya tersebut juga sejalan dengan arahan pemerintah pusat terkait penanganan sampah nasional.
“Presiden Prabowo sudah memberikan arahan tegas agar persoalan sampah segera ditangani, termasuk didorong menjadi sumber energi yang bermanfaat,” ujar Halim.
Ia menjelaskan, kesadaran masyarakat dalam memilah sampah sejak dini menjadi salah satu langkah penting untuk mengurangi volume sampah yang terus meningkat setiap hari.
“Kami harus mulai membangun kebiasaan memilah sampah dari rumah tangga. Jika sampah tidak dipisahkan sejak awal, maka penumpukan akan terus terjadi,” katanya.
Halim menyebut sampah organik sebenarnya masih memiliki nilai manfaat yang besar apabila dikelola dengan benar. Menurut dia, limbah organik dapat dimanfaatkan menjadi pupuk organik yang mendukung sektor pertanian.
“Jenis sampah organik masih sangat bisa dimanfaatkan, terutama untuk produksi pupuk organik yang nantinya membantu kebutuhan pertanian masyarakat,” jelasnya.
Politisi Partai Gerindra itu juga menyoroti kebijakan Pemerintah Kabupaten Jember yang mendorong restoran dan hotel agar mengelola sampah secara mandiri. Kebijakan tersebut dinilai penting karena sektor usaha menjadi salah satu penyumbang sampah dalam jumlah besar.
“Kebijakan ini diterapkan supaya pelaku usaha seperti hotel dan restoran yang menghasilkan sampah cukup banyak dapat bertanggung jawab mengelolanya sendiri,” tegas Halim.
Selain itu, DPRD Jember juga mendorong adanya kolaborasi antara pemerintah daerah dengan perguruan tinggi dalam merumuskan sistem pengelolaan sampah yang lebih modern dan efektif.
Halim mengatakan, saat ini masih sedikit daerah di Indonesia yang berhasil mengolah sampah menjadi energi alternatif. Karena itu, inovasi dan dukungan akademisi dinilai penting untuk mempercepat penanganan sampah di Jember.
“Kami berharap Pemkab Jember bisa menggandeng perguruan tinggi untuk merumuskan kebijakan pengelolaan sampah yang tepat dan berkelanjutan,” tambahnya.
Dengan langkah tersebut, lanjut Halim, penanganan sampah di Jember diharapkan dapat berjalan menyeluruh mulai dari hulu hingga hilir.
Sementara itu, Wakil Ketua Komisi XII DPR RI, Bambang Haryadi, menegaskan bahwa persoalan sampah tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga memengaruhi berbagai sektor lain.
Menurut Bambang, sosialisasi yang digelar DPR RI bersama Kementerian Lingkungan Hidup menjadi bagian dari edukasi kepada masyarakat agar lebih peduli terhadap kebersihan lingkungan.
“Karena dampak sampah ini sangat luas, bukan hanya terhadap kesehatan masyarakat, tetapi juga sektor pertanian hingga pariwisata,” ujarnya melalui Zoom Meeting, Kamis (7 Mei 2026).
Ia menilai edukasi dan sosialisasi secara masif perlu terus dilakukan agar masyarakat memahami bahaya penumpukan sampah dan pentingnya menjaga lingkungan sejak dini.


A WordPress Commenter says: