Petani Jember Keluhkan Serangan Tikus dan Minimnya Pendampingan Saat Reses Ketua DPRD

Petani Jember Keluhkan Serangan Tikus dan Minimnya Pendampingan Saat Reses Ketua DPRD

DPRD JEMBER – Sejumlah petani di Desa Rambigundam, Kecamatan Rambipuji, Kabupaten Jember, menyampaikan keresahan mereka kepada Ketua DPRD Kab. Jember, Ahmad Halim, S. Sos, dalam kegiatan reses masa sidang kedua tahun 2025. Keluhan utama yang disuarakan adalah meningkatnya serangan hama tikus yang menyerang lahan pertanian warga.

Ahmad Amin, salah satu petani setempat, menjelaskan bahwa meskipun harga gabah dan ketersediaan pupuk kini sudah stabil, para petani masih menghadapi ancaman serius dari hama tikus yang terus merusak tanaman.

“Berbagai upaya telah kami lakukan untuk membasmi hama ini, mulai dari tradisional hingga modern, tapi hasilnya belum efektif. Kami benar-benar kehabisan akal,” ungkap Ahmad Amin.

Ia juga mengkritik lemahnya peran Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) dalam memberikan pendampingan teknis kepada petani. Menurutnya, keberadaan PPL nyaris tak terasa karena petani seperti dibiarkan berjuang sendiri menghadapi persoalan di lapangan.

“Kami berharap Ketua DPRD Kab. Jember bisa menyuarakan kondisi kami ini kepada pemerintah. Jika dibiarkan, potensi gagal panen sangat besar,” tegasnya.

Keluhan juga datang dari Andi, seorang petani asal Kelurahan Tegal Besar. Ia menyoroti buruknya infrastruktur pertanian di wilayah perkotaan, khususnya sistem irigasi. Menurutnya, pembangunan perumahan yang masif di kawasan kota telah mengganggu aliran air ke sawah.

“Saluran air ke lahan pertanian kini banyak yang tersumbat atau terputus karena pembangunan, dan ini sangat menyulitkan kami,” kata Andi.

Tak hanya itu, Andi juga menyinggung soal kejanggalan dalam struktur organisasi kelompok tani di wilayahnya. Ia menyatakan bahwa ketua kelompok tani maupun Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) di daerahnya justru tidak memiliki lahan pertanian, yang menurutnya mengurangi pemahaman mereka terhadap kebutuhan petani secara langsung.

“Ini ironis. Bagaimana mereka bisa mewakili kepentingan petani kalau mereka sendiri tidak bersawah?” ujarnya dengan nada kecewa.

Menanggapi berbagai masukan tersebut, Ahmad Halim menyatakan komitmennya untuk menyampaikan aspirasi para petani kepada instansi terkait, khususnya Dinas Pertanian dan dinas teknis lainnya yang menangani infrastruktur pertanian.

“Kami akan segera koordinasikan dengan Dinas Pertanian Kab. Jember agar mereka melakukan langkah konkret, termasuk mendorong PPL agar lebih aktif turun ke lapangan,” jelas Halim.

Di akhir sesi reses, Halim mengajak seluruh peserta untuk menjaga suasana damai dan kondusif di tengah masyarakat. Ia juga mengingatkan agar masyarakat tidak mudah terpengaruh oleh informasi bohong atau hoax.

“Kalau menemukan berita yang tidak benar, jangan langsung disebarkan. Lebih baik diberi tanggapan yang menyejukkan agar tidak menimbulkan keresahan,” pungkasnya.***