Wakil Ketua DPRD Jember: Subjektivitas Jurnalis Tidak Bisa Dihindari
Wakil Ketua DPRD Jember: Subjektivitas Jurnalis Tidak Bisa Dihindari

DPRD Jember – Subjektivitas jurnalis tidak bisa dihindari dalam menulis berita. Sebab, subjektivitas mesti ada dalam diri jurnalis saat melakukan peliputan meskipun subjektivitas tak selalu dimaknai negatif.
Hal tersebut diungkapkan oleh Wakil Ketua DPRD Jember Jawa Timur Widarto saat menjadi narasumber dalam Focus Group Discussion: Level Up Media Jember 2 di kafe Tebing, Taman Botani Jember, Kamis (27/11/2025).
Menurutnya, subjektivitas sudah muncul dalam diri jurnalis, bahkan saat memilih angel liputan.
“Apakah subjektivitas dalam penulisan berita bisa dihindari? Menurut saya, no (tidak),” ucapnya
Widarto menambahkan, munculnya framing berita disebabkan oleh sikap jurnalis yang cenderung subjektif dalam menulis berita.
“Kenapa ada framing, ya karena adanya subjektivitas dari jurnalis atau perusahaan media. Soal subjektifitas sama antara jurnalis dan perusahaan media yang menaunginya. Wartawannya tidak subjektif tapi kadang pimpinannya (perusahaan) yang subjektif,” jelasnya.
Widarto lalu memisalkan adanya banyak peristiwa yang terjadi di Jember hari ini. Katanya, wartawan tentu memilih salah satu satu dari kejadian itu untuk diliput dan dijadikan berita. Dan pemilihan peristiwa itu sesungguhnya sudah masuk kategori subjektif.
“Karena kalau orang bertanya kok itu yang dijadikan berita, kok bukan yang lain, kok bukan yang di sana, dan seterusnya. Jadi pemilihan peristiwa itu ‘kan sudah subjektif,” jelasnya.
Widarto mengungkapkan bahwa subjektivitas berita dipengaruhi oleh beberapa hal. Pertama adalah faktor ekonomi. Yang menggerakkan jurnalis dan bahkan perusahaan media, salah satu faktor pentingnya adalah ekonomi.
“Dan itu sah-sah saja,” ungkapnya.
Kedua adalah faktor sosial. Misalnya, ada orang yang hidupnya kurang beruntung. Maka, naluri kemanusiaan dari seorang wartawan terenyuh menyaksikan nasib orang tersebut. Karena itu, si wartawan berinisiatif untuk menulis nasib orang tersebut agar mendapatkan pertolongan.
“Nah, pilihan ini tentu subjektif,” jelasnya.
Ketiga adalah faktor politik. “Untuk yang ini tidak perlu saya jelaskan, teman-teman pasti memahaminya,” ungkapnya.
Keempat adalah ilmu pengetahuan. Misalnya background seorang jurnalis adalah hal-hal yang terkait dengan lingkungan. Maka begitu ada kejadian yang terkait dengan masalah lingkungan, sang wartawan lalu menulis kejadian itu karena pengetahuannya sudah cukup.
“Pengetahuannya lebih cenderung kemana, biasanya itu yang ditulis. Dan itu sudah subjektif,” ujarnya.
Selain Widarto, hadir juga sebagai narasumber adalah Ketua Komisi Hukum dan Perundang-Undangan Dewan Pers, Abdul Manan.
Acara tersebut digelar oleh Dinas Informasi dan Komunikasi Kabupaten Jember, yang diikuti oleh 130 jurnalis dari berbagai organisasi profesi.
Kegiatan tersebut dibuka oleh Penjabat Sekdakab Jember, Akhmad Helmi Luqman yang diwakili oleh Asisten Administrasi Umum, Isnaini Dwi Susanti.


A WordPress Commenter says: