Ini yang Membuat Amarah Mahasiswa Reda saat Unjuk Rasa di Gedung DPRD Jember

Ini yang Membuat Amarah Mahasiswa Reda saat Unjuk Rasa di Gedung DPRD Jember

DPRD JEMBER – Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Amarah Masyarakat Jember (AMJ) menggelar unjuk rasa di gedung DPRD Jember, Selasa (9 September 2025). Unjuk rasa tersebut diantisipasi secara maksimal oleh Mapolres Kab. Jember dengan menurunkan polisi yang cukup banyak. Maklum hari-hari ini masyarakat cukup sensitif terhadap isu-isu yang terkait dengan kehidupan wakil rakyat.

Kerusuhan di Jakarta dan sejumlah daerah lain akibat unjuk rasa, membuat daerah lain ketar-ketir jika unjuk rasa  terjadi, dikhawatirkan  kerusuhan serupa juga terjadi di Jember.

Apalagi nama kelompok yang berunjuk rasa ini adalah Amarah Masyarakat Jember. Betul, terjadi ketegangan antara pengunjuk rasa dengan para pimpinan DPRD Kab. Jember saat mereka berdialog untuk menyampaikan tuntutannya di depan pintu masuk gedung wakil rakyat tersebut. Di antara yang mereka tanyakan adalah Raperda tembakau yang sudah cukup lama dibahas namun belum disahkan sebagai Perda.

“Raperda tembakau itu sudah sekitar 3 tahun lalu saya datang ke sini untuk menuntut pengesahan, namun hingga saat ini belum selesai,” teriak Koordinator aksi, Abdul Azis Al-Fajri.

Ketua Bapemperda DPRD Kab. Jember, Hanan Kukuh Ratmono tampil ke depan menjelaskan soal isu sejumlah Raperda yang sudah dibahas tapi belum disahkan sebagai Perda.

“Kami sudah bekerja, dan saya minta maaf mungkin ada kekurangan,” ujar Hanan tanpa menggunakan pengeras suara.

Situasi semakin memanas karena pengunjuk merasa tidak puas dengan jawaban Hanan.

Widarto kemudian tampil memberikan penjelasan. Ia mengungkapkan bahwa DPRD Kab. Jember sangat terbuka bagi masyarakat untuk memberikan masukan.

“Kami atas nama DPRD Kabupaten Jember mengucapkan terima kasih kepada kawan-kawan yang masih mau menyuarakan aspirasi masyarakat  Jember,” ujarnya mengawali.

Menurut Widarto, apa yang dirinya katakan bukan basa-basi, tapi benar-benar sebuah simpati. Ia mengaku yakin bahwa saat ini semua  berbenah, mulai dari pemerintah pusat hingga daerah, tidak ada hari ini yang berani memamerkan gaya hidup mewah.

“Karena itu sekali lagi, kami berterima kasih atas gerakan yang dilakukan oleh kawan-kawan di Kabupaten Jember,” jelasnya.

Widarto juga menyadari dan menegaskan bahwa partai politik harus mereformasi diri agar kedepan kader partai yang ditugaskan di legislatif maupun eksekutif adalah kader yang mumpuni, bukan karena popularitas, atau karena banyak uang.

“Karena itu, kami minta tolong dibantu, teman-teman adalah kelompok yang terdidik, aktifis  gerakan, dan saya yakin omongan kalian didengar oleh rakyat. Karena itu, bantu kami, lakukan pendidikan politik agar yang terpilih saat momentum Pemilu adalah orang-orang yang memang punya kompeten,” urainya.

Selama Widarto berbicara suasana reda, para pengunjuk rasa cukup menyimak penjelasan kader PDI Perjuangan itu.

Unjuk rasa di akhiri dengan penanda tanganan naskah pakta integritas berisi 9 tuntutan yang disodorkan pengunjuk rasa.