Perbaikan Titik Longsor di Tikungan Khokap Jalur Gumitir Dimulai, Gunakan Dana Kebencanaan
Perbaikan Titik Longsor di Tikungan Khokap Jalur Gumitir Dimulai, Gunakan Dana Kebencanaan

DPRD JEMBER – Proses perbaikan di salah satu titik rawan longsor di Jalur Gumitir, tepatnya di tikungan Khokap, saat ini tengah berlangsung.
Proyek ini didanai dari anggaran tidak terduga Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) atau biasa disebut dana penanggulangan bencana, dengan nilai anggaran sekitar Rp1 miliar.
Sekretaris Komisi C DPRD Jember, David Handoko Seto, menjelaskan bahwa penggunaan dana tersebut dimungkinkan karena lokasi yang diperbaiki merupakan bekas area terdampak bencana tanah longsor.
Kondisi tersebut menjadikan proyek ini masuk dalam kategori pekerjaan darurat.
“Karena longsor diklasifikasikan sebagai bencana, maka anggaran yang digunakan berasal dari pos force majeure atau dana tak terduga,” ujarnya pada Selasa, 26 Agustus 2025, sore.
Meskipun proyek ini bersifat insidentil dan tidak tercantum dalam rencana awal, David menegaskan bahwa kualitas pekerjaan harus tetap menjadi prioritas.
Ia meminta pihak kontraktor tetap menerapkan metode teknis dan spesifikasi material yang setara dengan proyek di tikungan Mbah Sengo, yang juga merupakan lokasi rawan di Jalur Gumitir.
“Untuk Khokap, metode penanganan menggunakan bored pile juga, hanya kedalamannya berbeda. Di titik ini sekitar 15 hingga 17 meter, sedangkan di Mbah Sengo bisa sampai 27 meter,” terang politisi dari Partai NasDem tersebut.
Ia menambahkan, perbedaan metode itu disesuaikan dengan karakteristik medan. Di Khokap, ancaman utama berasal dari potensi longsor, sementara di Mbah Sengo risikonya lebih pada kemiringan jalan yang ekstrem dan rawan menyebabkan kendaraan terguling.
David menekankan bahwa penanganan di Khokap perlu dipercepat, mengingat Jalur Gumitir merupakan koridor transportasi utama yang menghubungkan Kabupaten Jember dan Banyuwangi.
Ia berharap proyek bisa rampung sebelum tanggal 24 September 2025 agar jalur yang saat ini dibuka satu arah bisa kembali digunakan dua arah secara normal.
“Kalau pengerjaan bisa selesai lebih awal, tentu lalu lintas akan lebih lancar dan kemacetan panjang bisa dihindari,” ujarnya.
Tak hanya menyoroti teknis konstruksi, David juga mengingatkan pentingnya penerapan standar keselamatan kerja di lapangan, mengingat tingginya volume kendaraan, termasuk truk dan bus besar yang melintasi kawasan tersebut setiap hari.
Ia optimistis, dengan adanya dukungan dari dana penanggulangan bencana, penguatan struktur jalan di titik-titik rawan longsor seperti Khokap dapat mengurangi potensi kejadian serupa di masa mendatang.
“Harapannya, proyek ini bukan hanya menyelesaikan masalah saat ini, tetapi juga menjadi langkah pencegahan agar tidak terjadi longsor ulang di kemudian hari,” pungkasnya.***


A WordPress Commenter says: