Anggota Fraksi PKB DPRD Jember, Mufid: Pencegahan Stunting Tugas Segenap Elemen Masyarakat

Anggota Fraksi PKB DPRD Jember, Mufid: Pencegahan Stunting Tugas Segenap Elemen Masyarakat

DPRD JEMBER – Angka penderita stunting di Kab. Jember Jawa Timur, masih cukup tinggi. Bahkan untuk level Jawa Timur, jumlah penderita stunting di Jember selalu masuk dua besar teratas.

“Seperti yang sering dilontarkan Pak Bupati bahwa stunting di Kab. Jember kalau tidak nomor satu, ya nomor dua di Jawa Timur,” ujar  anggota Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) DPRD Kab. Jember, Mufid d sela-sela Kegiatan Reses Masa Sidang Ke-2 Tahun 2025 di Kelurahan Antirogo Kecamatan Sumbersari, Sabtu (30 Agustus 2025).

Menurut Mufid, pemerintah daerah dan segenap elemen masyarakat harus bekerja keras untuk menurunkan angka stunting di Kab. Jember. Katanya, untuk memberantas stunting tidak bisa hanya dipasrahkan kepada pemerintah daerah atau instansi tertentu namun juga tanggung jawab segenap elemen masyarakat.

“Pencegahan stunting bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tapi juga tugas kita semua, tugas segenap elemen masyarakat,” tambahnya.

Anggota Komisi D DPRD Kab. Jember itu mengungkapkan, banyak faktor yang berkontribusi bagi terjadinya stunting, mulai dari kurangnya asupan gizi, pernikahan dini, perlakuan orang tua, dan sebagainya. Karena itu, pencegahan sunting mesti melibatkan banyak pihak.

“Jadi stunting bukan semata-mata persoalan gizi yang kurang bagi balita, tapi banyak hal,” jelas Mufid.

Pernikahan dini, lanjutnya, angkanya masih cukup tinggi di Kab. Jember. Ini banyak terjadi di desa-desa. Bahkan ada budaya jika wanita umur sekian, sudah dianjurkan menikah walaupun umurnya tidak memenuhi syarat untuk menikah.

“Yang begitu itu, masyarakat terutama para orang tua perlu didorong kesadarannya agar tidak menikahkan anaknya ketika umurnya masih belum memenuhi syarat,” urainya.

Mufid mengingatkan bahwa persoalan stunting bukan hal yang remeh temeh. Sebab, stunting akan mengganggu pertumbuhan secara normal si penderita. Selain itu, dalam jangka panjang pasti menghambat tercapainya cita-cita bangsa, yaitu Indonesia emas tahun 2045.

“Indonesia emas adalah Indonesia yang maju, dan bebas dari stunting,” katanya.

Karena itu, Mufid berharap agar sosialisasi pencegahan stunting semakin digencarkan dengan harapan timbulnya kesadaran masyarakat bahwa betapa pentingnya bebas dari stunting. Jika masyarakat sudah sadar, maka dengan sendirinya akan menjaga hal-hal yang bisa menyebabkan terjadinya stunting.

“Jadi bangun kesadaran dulu tentang bahaya stunting. Kalau masyarakat sudah paham, maka dengan sendirinya masyarakat akan mengurangi hal-hal yang menyebabkan stunting,” ujarnya.

Bersamaan dengan timbulnya kesadaran masyarakat  yang meningkat, pemerintah juga perlu terus memfasilitasi dan memberikan tambahan gizi dan sebagainya untuk menjaga kondisi balita.

“Kesadaran masyarakat itu penting, usaha pemerintah juga penting untuk mengurangi angka stunting,” pungkasnya.