Komisi B DPRD Jember Soroti Serapan Tembakau Petani, Datangi Gudang PT MDR

Komisi B DPRD Jember Soroti Serapan Tembakau Petani, Datangi Gudang PT MDR

Oleh: Aryudi DPRD JEMBER – Di tengah padatnya agenda DPRD Jember dalam membahas Kebijakan Umum Anggaran dan Plafon Anggaran Sementara (KUA-PPAS) APBD 2027,  Komisi B DPRD Jember menyempatkan diri turun langsung ke lapangan, mengunjungi gudang PT Mangli Djaya Raya (MDR) di Kelurahan Sempusari, Kecamatan Kaliwates, Kabupaten Jember, Jumat (28 Agustus 2026).

Dalam kunjungan tersebut, Komisi B didampingi perwakilan Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Jember, Rudi Indrawan.

Menurut  anggota Komisi B DPRD Jember, Suharto, S.Sos, kunjungan tersebut dimaksudkan untuk menggali informasi secara langsung mengenai kemampuan perusahaan dalam menyerap hasil panen tembakau petani, sekaligus mengetahui seberapa besar kapasitas serapan PT MDR setiap tahunnya.

“Kami ingin mengetahui kapasitas stoknya sampai berapa ribu ton. Setiap tahun PT MDR membeli tembakau petani, tentunya catatan setiap tahun itu ada,” ujarnya.

Menurut Suharto, informasi mengenai kapasitas serapan perusahaan menjadi hal penting, terutama untuk memberikan gambaran kepada petani mengenai kondisi pasar tembakau. Data tersebut nantinya dapat menjadi salah satu pembanding bagi petani dalam menentukan kelayakan harga jual hasil panen mereka.

Terlebih, saat ini tanaman tembakau telah memasuki masa panen. Momentum tersebut biasanya menjadi periode yang cukup krusial bagi petani karena harga tembakau sangat dipengaruhi oleh kondisi pasar dan kemampuan industri dalam menyerap produksi.

Suharto menambahkan, informasi mengenai daya serap perusahaan juga penting sebagai bahan pertimbangan agar petani tidak hanya menjadi pihak yang mengikuti pergerakan harga pasar, tetapi memiliki referensi yang lebih kuat ketika menjual hasil produksinya.

Ia mengakui, persoalan harga masih menjadi salah satu tantangan yang kerap dihadapi petani tembakau. Ketika memasuki masa panen, petani berharap dapat menikmati harga yang menguntungkan setelah melalui proses budidaya yang membutuhkan biaya dan tenaga tidak sedikit.

Katanya, petani tembakau kerap kali mengalami kesulitan saat panen. Sebab, harganya sangat fluktuatif. Biasanya, harga tembakau mahal saat-saat tertentu, tapi setelah itu tak jarang harga tembakau anjlok, sehingga petani merugi.

“Petani tembakau banyak mengeluh, pas saat panen harga anjlok,” jelasnya.

Namun sayang, kunjungan wakil rakyat tersebut belum sepenuhnya membuahkan informasi yang dibutuhkan. Data terkait kapasitas pembelian dan stok tembakau PT MDR belum dapat diperoleh secara langsung dalam pertemuan tersebut. Sebab, pimpinan PT MDR, Christian, diketahui sedang berada di luar negeri. Sementara itu, rombongan Komisi B hanya diterima oleh staf PT MDR, Heri.

“Untuk sementara kami belum mendapatkan data itu. Penjelasan staf, Pak Heri, data akan dikirim ke dinas minggu depan,” jelasnya.

Komisi B pun masih menunggu data tersebut sebagai bahan untuk melihat lebih jauh kondisi serapan tembakau di tingkat industri. Data itu diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih utuh mengenai keseimbangan antara produksi tembakau petani dengan kebutuhan industri, terutama di tengah berlangsungnya musim panen tembakau di Jember.