Jalur Gumitir Dibuka Kembali, DPRD Jember Soroti Minimnya Penerangan Jalan
Jalur Gumitir Dibuka Kembali, DPRD Jember Soroti Minimnya Penerangan Jalan

DPRD JEMBER – Setelah sempat ditutup, Jalur Gumitir yang menjadi penghubung utama antara Kabupaten Jember dan Banyuwangi resmi dibuka kembali mulai Kamis dini hari, 4 September 2025.
Namun di balik kelancaran lalu lintas yang mulai kembali normal, masih ada persoalan krusial yang menjadi perhatian: minimnya penerangan jalan umum (PJU) di sepanjang jalur tersebut.
Agung Budiman, anggota Komisi C DPRD Kab. Jember mengungkapkan kekhawatirannya terkait kondisi jalan yang gelap pada malam hari.
Menurutnya, meskipun struktur jalan telah diperbaiki, tanpa penerangan yang memadai, potensi kecelakaan tetap tinggi.
“Kalau jalannya sudah halus tapi tidak ada lampu, ya tetap berisiko. Apalagi Gumitir ini jalur vital yang banyak dilalui kendaraan besar dan biasanya padat di malam hari,” ujar Agung saat ditemui Jumat siang, 19 September 2025.
PJU Tenaga Surya Hilang Dicuri, Kesadaran Masyarakat Disorot
Agung menjelaskan bahwa sebelumnya, PJU bertenaga surya sempat dipasang di beberapa titik jalur tersebut. Namun, sebagian besar fasilitas itu rusak atau hilang karena dicuri.
Ia menyayangkan lemahnya pengawasan serta rendahnya kesadaran masyarakat dalam menjaga fasilitas publik.
“PJU itu sebenarnya pernah dipasang, tapi banyak yang hilang karena dicuri. Kalau masyarakat tidak ikut merasa memiliki, mau pasang berapa kali pun, hasilnya tetap akan sama,” tegas politisi dari Partai Golkar Amanah itu.
Ia menekankan perlunya sinergi antara pemerintah dan warga dalam menjaga aset milik bersama. Menurutnya, keberadaan PJU bukan hanya soal infrastruktur, tapi soal keselamatan pengguna jalan.
Perbaikan Jalan Belum 100% Rampung
Selain soal penerangan, Agung juga mengungkap bahwa masih ada beberapa pekerjaan minor di lapangan yang belum tuntas.
Beberapa di antaranya meliputi perbaikan saluran air dan pengecoran pada bagian makadam jalan. Karena itu, di sejumlah titik, masih diberlakukan sistem buka-tutup arus lalu lintas.
“Masih ada beberapa titik yang butuh penyelesaian, tapi diperkirakan semua selesai akhir September ini,” jelasnya.
Meski begitu, Agung mengapresiasi peningkatan kualitas jalan secara keseluruhan.
Proyek perbaikan telah mencakup pengaspalan baru dan pemasangan marka jalan, serta penguatan struktur menggunakan metode bore pile sedalam 12 hingga 17 meter untuk meminimalkan risiko longsor.
Namun ia menekankan, perbaikan fisik saja tidak cukup jika aspek keselamatan seperti penerangan diabaikan. “Kalau soal penerangan ini terus dibiarkan, maka perbaikan jalan tidak akan memberi dampak maksimal. Gumitir akan tetap menjadi jalur yang berbahaya di malam hari,” pungkasnya.***
Related Posts
- No comments have been published yet.

