Tak Ingin Kekerasan Terulang, Komisi D DPRD Jember Sidak Sekolah Rakyat
Tak Ingin Kekerasan Terulang, Komisi D DPRD Jember Sidak Sekolah Rakyat
DPRD JEMBER – Dalam inspeksi ke Sekolah Rakyat (SR) yang terletak di Desa Pancakarya Kecamatan Ajung, Komisi D DPRD Jember tidak ingin kejadian kekerasan terulang kembali.
Rombongan Komisi D DPRD Jember melakukan inspeksi ke Sekolah Rakyat pasca terjadi kekerasan yang menimpa tiga siswa yang diduga dilakukan oleh mahasiswa Universitas Pertahanan (Unhan) beberapa waktu lalu.
Ketua Komisi D DPRD Jember, Sunarsi Khoris, S.Ag, M.Si menyatakan, memang terkait laporan dari orang tua korban ke Polres Jember masih berjalan. “Makanya kalau memang orang tua tidak terima, monggo minta pertanggung jawaban dua mahasiswa itu. Sampai detik ini masih di polres dan sudah melakukan olah TKP ke SR,” ungkapnya, Selasa (27 Oktober 2026).
Menurutnya, Sekolah Rakyat di Jember merupakan terbesar di Indonesia. Maka dari itu, ia menginginkan menjadikan sekolah yang nyaman, aman, tenang dan bahagia. “Semua yang masuk sini, baik pengajar harus lemah lembut,” pintanya.
Terkait kondisi ketiga siswa kini sudah sembuh dan kembali belajar di sekolah rakyat. Sedangkan mahasiswa Unhan telah kembali ke kampus, karena batas di sekolah rakyat hanya 2 minggu. “Itu memang tugas kampus, untuk masuk SR Se-Indonesia,” sebutnya.
Kejadian itu bermula, saat mahasiswa menemukan siswa sedang merokok diarea asrama, melihat itu lalu mahasiswa yang memiliki ketekunan disiplin melakukan tindakan.
“Karena ini lembaga SR yang desil yang siswanya sangat luar biasa, sehingga Penangangan harus lemah lembut, dengan hati. Walaupun di rumahnya sudah terjadi merokok bebas, tapi disini ada aturan maka berharap semua disini dengan lemah lembut mengatasi anak ini,” jelasnya.
Adanya temuan rokok, Khoris menganggap kenakalan yang wajar terjadi pada anak sekolah dimanapun diera sekarang. “Dimana saja rokok dan HP masuk sekolah. Namanya anak wajarlah kenakalan yang terjadi sekarang,” urainya.
Politisi PKB menyebut, terdapat ratusan pelajar yang menimba ilmu di sekolah rakyat dengan rincian pelajar SD sebanyak 109 anak, SMP 149 dan SMA 84 anak. “Disini programnya full day, masuk mulai jam 4 pagi sampai jam 9 malam, baru bisa masuk asrama,” tuturnya.
Pihak sekolah rakyat juga memberikan waktu orang tua dua minggu sekali menjenguk putra-putrinya. Kalau dilihat, sekolah ini fasilitas sangat luar biasa.
“Kemarin yang terjadi, kami sangat prihatin sekali. Makanya jangan terulang lagi, baik SR maupun lembaga mana saja,” harapnya.
Komisi D DPRD Jember merekomendasikan agar disekolah tersebut ditambah CCTV yang masih belum terjangkau atau tempat yang sangat urgent.
“Kami berharap di semua lokasi harus ada. Sementara belum semua, yang bisa terjangkau uang tertentu saja mungkin. Pihak sekolah sudah siap apa yang disampaikan komisi D tadi,” tegasnya.
Khoris menambahkan, sekolah rakyat terbuka bagi siapapun yang mau praktek mengajar atau bertugas apapun disini, namun ada persyaratan khusus. “Yakni bisa menyenangkan siswa disini, agar mereka tidak trauma dengan orang-orang baru,” tandasnya.
Related Posts
- No comments have been published yet.


