WNA Asal Kenya Terlantar, Komisi B DPRD Jember Minta Evaluasi Event Lari
WNA Asal Kenya Terlantar, Komisi B DPRD Jember Minta Evaluasi Event Lari

DPRD JEMBER – Komisi B DPRD Jember meminta untuk mengevaluasi event lari yang digelar, yang menyebabkan Warga Negara Asing (WNA) asal Kenya terlantar tidak bisa pulang ke negaranya.
Ketua Komisi B DPRD Jember, Candra Ary Fianto meminta penyelenggara kegiatan olahraga memperketat persiapan penyelenggaraan event setelah muncul kasus pelari asal Kenya yang terlantar di Jember.
Menurutnya, insiden tersebut berpotensi mencoreng citra Kabupaten Jember yang tengah membangun sektor pariwisata berbasis event.
Politiai PDI Perjuangan itu menilai setiap kegiatan yang menghadirkan peserta dari luar daerah maupun luar negeri harus dipersiapkan secara matang agar tidak menimbulkan persoalan yang berdampak pada nama baik daerah.
“Kalau ingin mengharumkan nama Jember melalui event, seluruh aspek penyelenggaraan harus dipersiapkan dengan baik. Mari bersama-sama menjaga nama baik Jember,” kata Candra, Rabu (22 Juli 2026).
Menurut Candra, Pemerintah Kabupaten Jember saat ini sedang berupaya memperkuat branding pariwisata melalui penyelenggaraan berbagai event berskala besar. Karena itu, ia berharap tidak ada kelalaian penyelenggara yang justru menimbulkan citra negatif bagi Jember maupun pemerintah daerah.
Ia mengingatkan kembali arahan Bupati Jember Muhammad Fawait yang mendorong penyelenggaraan event berskala besar dengan perencanaan dan pelaksanaan yang profesional.
Ke depan, Candra meminta Dinas Pariwisata dan Olahraga lebih aktif melakukan pengawasan terhadap event yang mendatangkan peserta atau talenta dari luar daerah maupun luar negeri. Menurut dia, pengawasan sejak tahap perencanaan diperlukan untuk memastikan seluruh ketentuan penyelenggaraan telah memenuhi standar.
Ia juga mengusulkan agar penyelenggara memperoleh rekomendasi dari dinas terkait sebelum mengurus perizinan kepada kepolisian. Langkah tersebut dinilai dapat menjadi mekanisme evaluasi awal terhadap kesiapan penyelenggara.
“Kalau sebuah event mampu menghadirkan peserta dari luar daerah, dampaknya bukan hanya pada promosi wisata, tetapi juga meningkatkan tingkat hunian hotel yang pada akhirnya berkontribusi terhadap pendapatan asli daerah,” ujarnya.
Sebelumnya diberitakan, pelari asal Kenya, Matirim Thomas Kipkorir, dilaporkan terlantar di Jember setelah tidak memperoleh hadiah utama sebesar Rp10 juta yang diharapkannya sebagai biaya kepulangan.
Panitia menganulir pemberian hadiah karena hadiah uang tunai tersebut hanya diperuntukkan bagi warga negara Indonesia yang dapat menunjukkan kartu identitas resmi, sebagaimana tercantum dalam ketentuan lomba. Akibatnya, Thomas kehabisan biaya hingga akhirnya mendapat bantuan dari sejumlah warga Jember untuk melanjutkan perjalanan ke Jakarta.


