Nama Jember Dipertaruhkan, DPRD Soroti Pelari Kenya yang Luntang-Lantung Usai Juara

Nama Jember Dipertaruhkan, DPRD Soroti Pelari Kenya yang Luntang-Lantung Usai Juara

DPRD JEMBER – Terlantarnya pelari asal Kenya, Maritim Thomas Kipkorir di Jember harus menjadi pelajaran berharga bagi penyelenggara event-event olahraga dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jember. Jangan sampai ada peserta yang luntang-lantung di Jember gegara tak punya ongkos pulang, apalagi dia warga negara asing.

Peringatan tersebut disampaikan anggota Komisi B DPRD Jember, Khurul Fatoni, menanggapi terombang-ambingnya Maritim Thomas Kipkorir di Kota Suwar-Suwir ini. Pelari asal Kenya yang sukses menjadi finisher terdepan pada ajang Jember 10K 2026, Minggu, 19 Juli 2026 itu, justru mengalami nasib yang memprihatinkan setelah perlombaan usai. Ia tidak dapat kembali ke negaranya karena kehabisan bekal, sementara hadiah yang diharapkannya untuk biaya kepulangan tidak bisa diterima akibat ketentuan yang telah ditetapkan panitia.

Menurut Cak Toni –sapaan akrabnya–  apa yang terjadi pada Maritim Thomas Kipkorir bukan kesalahan penyelenggara Jember 10K 2026. Sebab, sejak awal panitia telah mencantumkan informasi pada flyer bahwa hadiah sebesar Rp10 juta bagi peraih juara pertama hanya diperuntukkan bagi pelari dalam negeri.

“Ya kesalahpahaan informasi saja, karena pengumumannya dengan bahasa Indonesia,” ucapnya di Jember, 20 Juli 2026.

Meski demikian, lanjut Cak Toni tersebut, Pemkab Jember tidak bisa sepenuhnya lepas tangan. Bagaimanapun, ajang tersebut membawa nama Jember sehingga citra daerah turut dipertaruhkan. Walaupun penyelenggaranya berasal dari pihak swasta, publik tetap akan mengaitkan penyelenggaraan event itu dengan Kabupaten Jember.

“Karena itu, kalau terjadi sesuatu dengan ajang itu, yang jelek juga nama Jember. Apalagi sampai ada peserta, juara lagi, luntang-lantung di Jember. Karena itu, ini harus jadi pelajaran berharga bagi kita, karena Jember banyak punya acara bertaraf internasional,” jelasnya.

Seperti diketahui, Maritim Thomas Kipkorir merupakan pelari internasional asal Kenya Afrika Timur yang dikenal sebagai gudangnya atlet-atlet lari jarak jauh dunia. Sebelum mengikuti ajang Jember 10K 2026, ia lebih dahulu menorehkan prestasi dengan meraih juara kategori Half Marathon (HM) Men 40 and Up pada ajang Green Force Run 2026.

Namun keberuntungan tidak berpihak kepadanya saat berlaga di Jember. Uang tunai Rp10 juta yang diincarnya sebagai hadiah juara pertama, sekaligus direncanakan untuk membeli tiket kepulangan, tidak dapat dibawa pulang karena terbentur aturan panitia yang membatasi hadiah utama hanya untuk peserta domestik. Kondisi tersebut membuat bekal yang dibawanya habis sehingga ia tidak memiliki ongkos untuk kembali ke negaranya.

Dalam situasi sulit itu, uluran tangan warga Jember menjadi penyelamat. Maritim kemudian ditampung oleh Wawan, warga Desa Petung, Kecamatan Bangsalsari. Di situlah ia diberi makan seadanya, dan bisa menginap tanpa bayar.

Wawan kemudian menghubungi adiknya, Nanda Puspita, seorang penggerak aksi sosial di Jember. Nanda selanjutnya berkoordinasi dengan Riana Andrian, pegiat kemanusiaan yang fasih berbahasa asing. Riana kemudian menghubungi Ayu Fitriananda, sosok yang aktif di bidang event organizer.

Dari rangkaian kepedulian itulah akhirnya solusi ditemukan. Ayu Fitriananda mengambil inisiatif untuk menanggung biaya perjalanan Maritim Thomas Kipkorir menuju Jakarta agar dapat berkoordinasi dengan Kedutaan Besar Kenya terkait proses kepulangannya ke tanah kelahiran.