Reses Tabroni Jadi Wadah Curhat Warga, Sengketa Jemur Kopi Jadi Perhatian Utama

Reses Tabroni Jadi Wadah Curhat Warga, Sengketa Jemur Kopi Jadi Perhatian Utama

 DPRD JEMBER – Reses benar-benar menjadi ajang penumpahan uneg-uneg masyarakat atas beragam persoalan yang mereka hadapi sehari-hari. Forum yang sejatinya menjadi sarana menyerap aspirasi rakyat itu tidak hanya dipenuhi keluhan mengenai minimnya pembangunan infrastruktur, tetapi juga persoalan-persoalan yang bersifat personal yang ternyata berdampak pada kehidupan dan penghasilan warga.

Suasana seperti itulah yang mewarnai Reses Masa Persidangan II DPRD Jember yang digelar anggota DPRD Jember, Tabroni, di Desa Sumberjati, Kecamatan Silo, Sabtu (18 Juli 2026). Warga memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menyampaikan berbagai persoalan secara terbuka, dengan harapan mendapat perhatian dan solusi dari wakil rakyat.

Salah satu aspirasi yang cukup menarik perhatian datang dari seorang petani kopi. Dalam forum reses tersebut, ia mengadukan adanya larangan terhadap dirinya dan sejumlah petani lain untuk menjemur kopi hasil panen di lokasi tertentu. Kondisi itu dinilai menghambat proses produksi karena kopi tidak dapat segera dikeringkan sebagaimana mestinya. Akibatnya, kualitas hasil panen berpotensi menurun dan pendapatan para petani pun tidak bisa maksimal.

Selain persoalan tersebut, peserta reses juga menyampaikan berbagai kebutuhan lainnya, mulai dari perbaikan saluran irigasi yang menjadi penopang sektor pertanian, usulan bantuan beasiswa bagi pelajar, hingga sejumlah persoalan lain yang dianggap mendesak untuk segera mendapat perhatian pemerintah.

Menanggapi berbagai keluhan sekaligus usulan yang mengemuka dalam forum reses, Tabroni menegaskan bahwa seluruh aspirasi masyarakat akan diinventarisasi dan diupayakan masuk ke dalam pokok-pokok pikiran (pokir) DPRD sebagai bahan pengajuan pada pembahasan APBD Tahun Anggaran 2027.

“Usulan-usulan itu akan kami masukkan dalam pokir sehingga lebih mudah diterima dan memantaunya,” ujar Tabroni.

Anggota Fraksi PDI Perjuangan itu menambahkan, persoalan larangan menjemur kopi yang dialami para petani tidak bisa dipandang sebelah mata. Menurutnya, persoalan yang tampak sederhana tersebut berpotensi berkembang menjadi konflik horizontal apabila tidak segera dicarikan solusi yang adil bagi semua pihak.

“Persoalan apapun jangan pernah dianggap sepele,” ucapnya.

Karena itu, lanjut Tabroni, persoalan tersebut harus diselesaikan melalui musyawarah dengan mengedepankan kepentingan bersama tanpa merugikan salah satu pihak. Ia berharap para pemilik kopi tetap dapat menjemur hasil panennya hingga memiliki nilai jual, sementara pihak yang keberatan juga tidak merasa dirugikan ataupun terganggu.

Sebagai bentuk komitmennya dalam menyelesaikan persoalan tersebut, Tabroni berencana memfasilitasi pertemuan antara seluruh pihak yang berkepentingan, mulai dari para petani, kepala dusun, pemerintah desa, hingga unsur terkait lainnya. Melalui dialog yang terbuka, ia berharap dapat ditemukan jalan keluar yang mengedepankan semangat kebersamaan dan menjaga kerukunan masyarakat.

“Saya punya keinginan untuk mempertemukan kedua belah pihak, kepala dusun, kepala desa, dan sebagainya untuk mencari jalan keluar terbaik,” pungkasnya.