Harga Benur Anjlok, Ini Saran Komisi C DPRD Jember
Harga Benur Anjlok, Ini Saran Komisi C DPRD Jember

DPRD JEMBER – Benur merupakan salah satu komoditas yang sebenarnya cukup menjanjikan. Benur yang juga disebut benih bening lobster (BBL) ini menjadi favorit para nelayan Jember karena harganya yang cukup mahal. Namun dalam beberapa bulan terakhir, harga benur terjun bebas.
Menurut anggota Komisi C DPRD Kab. Jember Hanan Kukuh Ratmono, harga benur saat ini cukup merisaukan nelayan, yakni Rp3.000 hingga Rp4.000/ekor. Harga ini jika dibandingkan dengan kondisi normal, jauh lebih kecil, dan benar-benar anjlok.
Hanan mengaku sempat berdiskusi dengan Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Jember, Sugiyarto terkait anjloknya harga benur. Dalam kesempatan tersebut, Hanan mengungkapkan pentingnya Pemerintah Kabupaten Jember memiliki tambak apung yang ditempatkan di teluk-teluk untuk menampung benur.
“Kita kayaknya punya potensi besar untuk membuat tambak apung di daerah selatan,” ucapnya saat rapat dengar pendapat (RDP) bersama puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Korps Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Putri (Kopri) Jember, Kamis (18 September 2025).
Hanan menambahkan, banyak lokasi yang cocok untuk tempat tambak apung misalnya di Getem hingga arah Puger, dan pantai Bandealet. Tambak-tambak apung tersebut nanti dibuat untuk menampung benur. Ketika harga benur murah, benih lobster itu bisa dibesarkan di tambak apung untuk kemudian dijual jika harganya sudah bagus.
“Informasi yang saya dapat, di Vietnam dan China itu sudah ada tambak apung. Jadi benur-benur yang didapat dari kita (Indonesia) itu juga ditampung dan dibesarkan lagi di tambak-tambak apung di situ,” jelasnya.
Kata Hanan, membangun tambak apung cukup memungkinkan karena resistensinya rendah. Hal ini berbeda jika yang dibangun adalah tambak di daratan. Ini diyakini konflik sosialnya tinggi sehingga sangat sulit membangun tambak di daratan dekat pantai misalnya di Paseban hingga kawasan Puger. Dan kenyataannya banyak terjadi penolakan terhadap berdirinya tambak udang dan sebagainya di kawasan darat.
“Tapi kalau tambak itu ditarik ke laut (dalam bentuk tambak apung),masih memungkinkan,” katanya.
Sementara itu, anggota Komisi B DPRD Kab. Jember Agus Khoironi mengungkapkan, anjloknya harga benur juga mempengaruhi harga lobster. Katanya, dulu ketika harga benur mahal, harga lobster sangat mahal bahkan bisa mencapai jutaan rupiah untuk jenis mutiara dan karang.
“Tapi sekarang (harga lobster) tinggal Rp400 ribu, paling mahal Rp500 ribu per kilogramnya, termasuk yang jenis mutiara dan karang itu,” ucapnya.
Related Posts
- No comments have been published yet.

