Komisi D DPRD Kab. Jember Kaget Kok Ada Ambulance Rental

Komisi D DPRD Kab. Jember Kaget Kok Ada Ambulance Rental

DPRD JEMBER – Anggota Komisi D DPRD Kab. Jember Muh. Ahmad Birbik Munajil Hayat, SE., mengaku kaget terkait adanya informasi bahwa untuk mengangkut pasien, khususnya di Jember selatan sampai harus menyewa mobil rental. Padahal, mobil ambulance di Jember sudah tercukupi.

Hal tersebut diungkapkan Gus Birbik, sapaan akrabnya, saat rapat dengar pendapat (RDP) bersama para sopir ambulance desa dan Dinas Kesehatan Jember, Rabu (13/8/2025).

Menurut Gus Birbik, sangat aneh jika saat ini masih ada pihak yang harus menggunakan mobil rental, sementara sejak lama setiap desa dan kelurahan  sudah memiliki mobil rental.

“Saya tidak paham, kok ada, kok masih rental mobil untuk antar jemput pasien. Terus bayarnya berapa, belum lagi BBM-nya,” ucapnya.

Sebelumnya, dalam RDP tersebut, Yuli Raharjo, sopir ambulance Desa Ampel Kecamatan Wuluhan mengungkapkan bahwa mobil ambulance yang dipegangnya sudah ditarik oleh Puskesmas Wuluhan. Sehingga untuk melakukan antar jemput pasien, harus memakai mobil rental.

“Kami terpaksa pakai mobil rental, sewa di tetangga untuk antar jemput pasien,” ucapnya.

Yuli menuturkan, dirinya tidak langsung menodong pasien dengan harga tertentu untuk antar jemput pasien ke RSD dr. Soebandi. Namun ditawarkan dulu kepada keluarga pasien, jika mau dengan harga yang ditawarkan, maka oke.

“Saya tawarkan Rp150 ribu dari Ampel ke rumah sakit dr. Soebandi PP (pergi-pulang), dan keluarga pasien mau, ya saya terima,” jelasnya.

Ia beralasan terkait penggunaan mobil rental itu lantaran mobil ambulance Desa Ampel sudah ditarik oleh Puskesmas setempat. Kata Yuli, selain mobil Ambulance Desa Ampel, mobil ambulance Desa Lojejer, dan Desa Tamansari juga ditarik.

“Setahu saya, di tiga desa itu, mobil ambulannya sudah ditarik,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan  Kabupaten Jember, Santi Indriasari mengatakan bahwa penarikan mobil ambulance oleh Puskesmas adalah hal yang wajar. Pasalnya, bagi Puskesmas yang sudah berstatus BLUD, mobil-mobil ambulance itu tidak menghasilkan income yang aktif, bahkan membutuhkan biaya operasional yang sangat besar.

“Satu Puskesmas misalnya punya 10 atau 12 mobil ambulance, itu cukup berat sehingga kalau ada Puskesmas yang menarik mobil ambulance, wajar karena kalau Puskesmas tidak mampu memberikan biaya operasional seperti BBM, lalu menarik (biaya) dari pasien itu sangat berisiko,” paparnya.

Di tempat yang sama, Ketua Komisi D DPRD Kab. Jember, Sunarsi Khoris meminta agar mobil ambulance tetap stanby di tempat untuk berjaga-jaga jika ada masyarakat atau pasien yang membutuhkan.

“Bagi yang sudah ditarik, tolong pikirkan (Puskesmas) bagaimana caranya jika ada pasien yang membutuhkan,” pungkasnya.