Pantai Cemara Puger Terancam Abrasi, DPRD Jember Dorong Mahasiswa Terus Bersuara

Pantai Cemara Puger Terancam Abrasi, DPRD Jember Dorong Mahasiswa Terus Bersuara

DPRD JEMBER – Ketua Komisi B DPRD Jember, Candra Ary Fianto, S.T, mengapresiasi kepedulian para mahasiswa yang tergabung dalam Ikatan Mahasiswa Agro Teknologi (Imagro) Universitas Jember (Unej) dalam melestarikan lingkungan, khususnya  pantai Cemara, Desa Mujomulyo, Kecamatan Puger.

Menurut Candra, keterlibatan mahasiswa dalam isu lingkungan merupakan bagian penting dari upaya membangun kesadaran publik. Persoalan abrasi, kerusakan ekosistem pesisir, hingga perubahan bentang alam tidak hanya berkaitan dengan lingkungan, tetapi juga dapat berdampak terhadap kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat yang menggantungkan penghidupannya pada kawasan tersebut.

Karena itu, Candra mendorong mahasiswa agar tidak berhenti menyuarakan pentingnya menjaga lingkungan. Ia juga memberikan semangat kepada para mahasiswa untuk terus mengambil peran dalam mengawal kelestarian kawasan pesisir Jember.

“Jangan lelah untuk menyuarakan pentingnya menjaga lingkungan, terutama kawasan pantai,” ujar Candra saat menerima audiensi sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Imagro di ruang Komisi B DPRD Jember, Jumat (18 September 2026).

Kedatangan Imagro Unej ke DPRD Jember bukan tanpa alasan. Mereka beraudiensi dengan Komisi B untuk menyampaikan kondisi terkini Pantai Cemara yang dinilai semakin terdesak akibat abrasi air laut dan banjir rob.

Mahasiswa juga meminta dukungan pemerintah daerah untuk mendorong langkah pemulihan ekosistem pesisir. Bagi mereka, Pantai Cemara bukan sekadar kawasan wisata, tetapi juga bagian dari ekosistem yang memiliki keterkaitan dengan keberlangsungan aktivitas masyarakat di sekitarnya.

Candra mengingatkan, perubahan bentang alam di kawasan pesisir perlu menjadi perhatian serius. Jika tidak dikelola dengan baik, kerusakan lingkungan dapat merembet pada berbagai sektor, termasuk aktivitas perekonomian masyarakat.

Ia mencontohkan kondisi kawasan Desa Sumberejo yang pada masa lalu masih memiliki hamparan hutan bakau. Namun, seiring perubahan pemanfaatan lahan, kawasan tersebut kemudian berubah menjadi tambak dan keberadaan hutan bakau pun semakin berkurang.

“Dulu pernah menjadi hutan bakau. Namun karena dimanfaatkan tambak, hutan bakau tersebut hilang,” ujarnya.

Dalam audiensi tersebut, perwakilan Imagro Unej, Aldo Dwi R, turut memaparkan hasil pemantauan yang dilakukan pada Agustus 2026. Berdasarkan pemantauan mahasiswa, abrasi di kawasan Pantai Cemara menunjukkan perkembangan yang semakin meluas.

Kondisi tersebut tidak hanya mengancam ekosistem pesisir, tetapi juga mulai dirasakan oleh masyarakat yang menjalankan aktivitas ekonomi di kawasan pantai. Sejumlah pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), misalnya, memilih memindahkan lokasi usahanya untuk menghindari dampak abrasi yang terus menggerus kawasan pantai.

Untuk mengurangi abrasi, Imagro Unej menggandeng sejumlah komunitas lingkungan. Selain itu, mereka juga mengajukan permohonan bibit Mangrove kepada Pemerintah Kabupaten Jember, dalam hal ini Dinas Lingkungan Hidup, namun belum bisa dipenuhi.

“Sementara ini kami meminta bantuan bibit ke pemerintah, khususnya Dinas Lingkungan Hidup, masih belum tersedia,” kata Aldo.