DPRD Jember Soroti 1.000 Ancak di Kirab Maulid Nabi, Gus Birbik: Kebaikan Awalnya Memang Harus Dipaksakan
DPRD Jember Soroti 1.000 Ancak di Kirab Maulid Nabi, Gus Birbik: Kebaikan Awalnya Memang Harus Dipaksakan

DPRD JEMBER – Kirab Pawai Budaya Ancak Agung yang digelar Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jember dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW pada Sabtu, 22 Agustus 2026, berlangsung meriah dan spektakuler. Ribuan masyarakat turut menyaksikan perhelatan budaya-religius yang tidak hanya menghadirkan kemeriahan, tetapi juga meneguhkan identitas tradisi masyarakat Jember.
Salah satu daya tarik utama dalam kegiatan tersebut adalah keterlibatan sekitar 1.000 ancak yang diarak dalam kirab. Bahkan, terdapat ancak dengan ukuran menjulang yang menjadi perhatian tersendiri karena seluruh rangkaiannya menggunakan kue khas Jember, suwar-suwir.
Besarnya skala kegiatan tersebut akhirnya mengantarkan Kirab Ancak Agung Jember meraih dua penghargaan sekaligus dari Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI). Dua rekor tersebut masing-masing adalah Ancak Tertinggi dari Rangkaian Suwar-Suwir dan Kirab Ancak Agung Terbanyak.
Anggota Komisi D DPRD Jember, Muhammad Ahmad Birbik Munajil Hayat, SE., menilai tidak sulit bagi Pemkab Jember untuk menggerakkan 1.000 ancak, bahkan lebih. Menurutnya, hal tersebut tidak terlepas dari besarnya peran Bupati Jember Muhammad Fawait sebagai penanggung jawab utama dalam puncak hajatan keagamaan tersebut.
Ia menjelaskan, apabila bupati mengeluarkan surat edaran yang mengajak organisasi perangkat daerah (OPD) maupun lembaga-lembaga lainnya untuk berkontribusi dalam bentuk ancak, maka hal tersebut merupakan bagian dari upaya bersama menyukseskan kegiatan keagamaan.
“Kalau ada pertanyaan, itu karena ada insruksi (dari bupati), ya kebaikan itu awalnya memang harus dipaksakan, tidak masalah,” jelasnya usai Rapat Penyelarasan KUA-PPAS tahun 2027 bersama Rumah sakit Darah (RSD) Kalisat, Sabtu (22 Agustus 2026).
Menurut Gus Birbik, sapaan akrabnya, sebuah kebaikan terkadang memang perlu dimulai melalui dorongan atau instruksi. Namun, seiring berjalannya waktu, sesuatu yang semula dilakukan karena adanya perintah dapat tumbuh menjadi kebiasaan dan akhirnya menjadi kesadaran bersama.
Ia berharap tradisi positif tersebut tidak berhenti sebatas seremoni, tetapi dapat terus tumbuh menjadi budaya yang melekat dalam kehidupan masyarakat. Dengan demikian, partisipasi dalam kegiatan keagamaan ke depan diharapkan muncul bukan semata karena instruksi, melainkan dari kesadaran dan kecintaan terhadap nilai-nilai keagamaan serta tradisi lokal.
“Tidak apa-apa (dipaksakan), karena itu kebaikan, apalagi ini untuk Maulid Nabi,” ungkapnya.
Kendati demikian, Gus Birbik memberikan catatan agar kebijakan atau instruksi terkait kontribusi ancak tetap mempertimbangkan kemampuan masing-masing OPD maupun lembaga. Menurutnya, semangat kebersamaan dalam menyukseskan kegiatan keagamaan harus tetap berjalan beriringan dengan kondisi dan kapasitas keuangan masing-masing pihak.
Dengan pendekatan tersebut, partisipasi dalam Kirab Ancak Agung diharapkan tetap menjadi bagian dari semangat gotong royong, tanpa menimbulkan beban yang berlebihan bagi pihak-pihak yang terlibat.
“Ya disesuaikan dengan kondisi keuangan masing-masing,” pungkasnya.
Related Posts
- No comments have been published yet.


