Penguatan Nelayan dan Peternak Jadi Perhatian Komisi B DPRD Jember

Penguatan Nelayan dan Peternak Jadi Perhatian Komisi B DPRD Jember

DPRD JEMBER – Komisi B DPRD Kabupaten Jember mendorong penguatan kapasitas nelayan dan peternak sebagai bagian dari upaya meningkatkan ketahanan pangan sekaligus memperkuat daya saing pelaku usaha di sektor perikanan dan peternakan.

Dorongan tersebut disampaikan anggota Komisi B DPRD Kabupaten Jember Agus Khoironi, S.Si dalam rapat bersama Dinas Ketahanan Pangan, Peternakan, dan Perikanan Jember di gedung parlemen, 15 Agustus 2026.

Agus Khoironi menyoroti kondisi nelayan Jember yang dinilai masih menghadapi persaingan dengan nelayan dari daerah lain. Menurutnya, nelayan dari Malang dan Pacitan memiliki teknologi yang lebih baik sehingga diperlukan peningkatan kemampuan dan dukungan sarana bagi nelayan lokal.

Penguatan tersebut dinilai penting agar hasil tangkapan nelayan Jember dapat lebih optimal untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di daerah. Agus juga menyoroti masuknya nelayan dari luar daerah yang dalam beberapa kesempatan memicu ketegangan dengan masyarakat nelayan setempat.

Karena itu, peningkatan teknologi dan dukungan anggaran bagi nelayan menjadi salah satu hal yang perlu mendapat perhatian. Selain sektor perikanan, Agus juga meminta perhatian lebih terhadap peternak ayam, terutama dalam kondisi harga telur yang sedang rendah.

Agus berharap dinas lebih aktif memantau kondisi peternak dan memastikan program yang telah berjalan dapat menjangkau pelaku usaha di lapangan, termasuk peternak berskala kecil.

Menanggapi persoalan nelayan, Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Peternakan, dan Perikanan Jember Sugiyarto menjelaskan bahwa pergerakan ikan permukaan bersifat migratif. Kondisi tersebut membuat lokasi ikan tidak selalu sama setiap tahun maupun setiap musim.

Sugiyarto menjelaskan, pada periode tertentu ikan layur lebih banyak berada di sekitar perairan dekat Jember, termasuk kawasan Nusa Barong. Kondisi itu menarik nelayan dari daerah lain untuk menangkap ikan di wilayah tersebut. Pada periode berbeda, ikan lemuru justru lebih banyak berada di Selat Bali sehingga nelayan Puger bergerak ke wilayah Banyuwangi.

Menurut Sugiyarto, dinamika tersebut membutuhkan sikap saling memahami antarwilayah karena pergerakan ikan menjadi faktor utama dalam aktivitas penangkapan. Pemerintah daerah juga telah turun melakukan negosiasi ketika terjadi persoalan antar nelayan.

Sementara di sektor peternakan, Sugiyarto menyampaikan bahwa pemerintah daerah berupaya memperoleh data mengenai kemitraan ayam melalui persetujuan dinas dalam hubungan kerja sama antara perusahaan dan peternak. Data tersebut dibutuhkan untuk memahami jumlah mitra dan kapasitas produksi.

Sugiyarto juga menjelaskan bahwa telur Jember tidak hanya beredar di daerah sendiri, tetapi banyak dipasarkan ke Bondowoso dan Banyuwangi. Sebaliknya, telur dari Blitar juga masuk ke pasar Jember melalui sistem konsinyasi.

Keterbatasan anggaran dan sarana membuat pemerintah daerah belum dapat melakukan intervensi pasar dalam skala besar. Upaya yang dapat dilakukan saat ini antara lain melalui kegiatan Gerakan Pangan Murah (GPM) dengan selisih harga yang relatif terbatas.

Agus kemudian menyoroti pemanfaatan cadangan jagung pemerintah untuk membantu mengurangi beban biaya pakan peternak. Sugiyarto memastikan program tersebut telah berjalan melalui rekomendasi dinas kepada kementerian dan pengajuan melalui asosiasi.

Program cadangan jagung terutama dimanfaatkan peternak ayam petelur yang membuat pakan sendiri. Sementara peternak ayam potong umumnya telah memperoleh pakan melalui sistem kemitraan.

Agus juga mengingatkan masih terdapat komunitas peternak berskala kecil, termasuk peternak bebek, yang berpotensi belum memperoleh akses program karena belum tergabung dalam asosiasi. Sugiyarto membuka peluang pendataan tambahan agar kelompok yang belum terakomodasi dapat diidentifikasi, terutama untuk mengikuti penyaluran cadangan jagung pemerintah tahap berikutnya. []